Senin, 10 September 2012

SYEKH JAMBUKARANG ARDI LAWET PURBALINGGA

SYEKH JAMBU KARANG


Gunung Lawet/Ardi lawet terletak di Desa Panusupan kecamatan Rembang kabupaten Purbalingga.
A.Makam Wali Pangeran Syekh Jambukarang (Haji Purba/Haji Purwa)
Pangeran Syekh Jambukarang berasal dari jawa Barat. Beliau adalah putra mahkota Prabu Brawijaya Mahesa Tandreman, Raja Pajajaran I. Nama mudanya adalah R.Mundingwangi.
Sebenarnya beliau akan dinobatkan untuk menjadi pengganti ayahnya menjadi raja Pajajaran namun beliau lebih suka mengembara sehingga tahta kerajaan diserahkan pada adiknya bernama R.Mundingsari pada tahun 1190 M. R.Mundingwangi kemudian bertapa di Gunung Jambudipa yang terletak di kabupaten Banten Jawa Barat. Setelah menjadi pertapa beliau terkenal dengan nama Jambukarang dan tempat beliau bertapa dikelan dengan nama Gunung Karang.
Alkisah saat beliau betapa, beliau melihat tiga Nur/Cahaya putih dibelah timur dan sangat tinggi keberadaannya. Oleh karena itu beserta 160 pengikutnya beliau menemukan asal nur tersebut tepat di Gunung Panungkulan di Desa Grantung kecamatan Karangmoncol sehingga terkenal dengan nama Gunung Cahyana.
Dalam perjalanannya, beliau melalui :
Karawang atau Jatisari
Sungai Comal dan bertinggal agak lama disana dan sekarang ada petilasannya bernama petilasan Geseng
Gunung Cupu dan menelusuri saungai Kuripan
Gunung Kraton dan keselatan ke Gunung Lawet
Bojongsana dan keselatan menelusuri sungai Ideng,kedung Budah,kedung Manggis
Penyindangan (desa Rajawana sekarang)
Karang Arum (desa Makam sekarang dan keselatan sampilah di Gunung Panungkulan.
Tersebutlah seorang mubaligh Islam dari negeri Arab yang terkenal dengan sebutan Syekh Atas Angin. Sesudah sholat Subuh mendapat Ilham bahwa disebelah timur terdapat tiga buah cahaya putih menjulang tinggi diangkasa. Maka beliau dengan 200 pengikutnya pergi untuk mencari cahaya tersebut. Dalam perjalanannya beliau singgah di Gresik dan Pemalang kemudian ke Gunung Cahyana.Di Gunung Cahyana beliau bertemu dengan R.Mundingwangi atau Jambukarang yang sedang bertapa setelah menemukan cahaya yang sama-sama dicarinya.

Pangeran Atas Angin memberi salam namun Pangeran Jambukarang tidak menjawabnya sebab waktu itu PangeranJambukarang memeluk agama Hindu. Merasa terganggu dengan kehadiran Pangeran Atas Angin, Pangeran Jambukarang sangat marah dan terjadilah adu kesaktian kedua Pangeran tersebut. Pangeran Jambukarang dapat dikalahkan oleh Pangeran Atas Angin sehingga Pangeran Jambukarang tunduk pada Pangeran Atas Angin dan masuk Islam bergelar Syekh jambu Karang.
Beberapa persyaratan harus dipenuhi oleh Pangeran Jambukarang agar dapat diterima oleh Pangeran Atas Angin atara lain : Mandi Taubat, memotong rambut dan memotong kukunya (sekarang ada di petilasan Gunung Lawet)
Ketika Pangeran Jambukarang akan diberi Ilmu Kewalian, beliau meminta supaya bertempat di Gunung Kraton saja. Sampai saat ini masih ada petilasannya.

Pada saat ilmu Kewalian diajarkan atau diwejang(dalam bahasa Jawa), semua gunung disekitar gunung Kraton tunduk kecuali satu yang berada di sebelah timurnya sehingga sampai sekarang dikenal dengan sebutan gunung Bengkeng atau gunung Membangkang.
Sebagai ucapan terima kasih kepada Pangeran Atas Angin,beliau dinikahkan dengan putrinya Rubiyah Bekti. Untuk menyempurnakan ilmu ke Islamannya, beliau menunaikan haji ke Mekkah. Sepulang dari Mekkah beliau terkenal sebagai mubaligh Agung dan diberi gelar Haji Purwa/Haji Purba.
Dari sejarah diatas tersebutlah nama Gunung Lawet atau Ardi Lawet yang banyak dikunjungi orang untuk berziarah, pada dasarnya adalah tempat mendekatkan diri Pangeran Syekh Jambukarang seperti halnya Rosulullah berkhalwat di Gua Hira. Nama gunung Lawet diambil dari kata Khalwat atau semedi atau dalam Islam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pangeran Syekh Jambukarang tinggal di gunung Cahyana selama 45 Tahun. Pangeran Atas Angin dengan Rubiyah Bekti berputra lima orang antara lain :
1.Pangeran Makhdum Husen Kayupuring, dimakamkan di Rajawana kecamatan Karangmoncol Kabupaten Purbalingga
2.Pangeran Makhdum Medem, dimakamkan di Cirebon
3.Pangeran Makhdum Umar, dimakamkan di Pulau Karimun.
4.Rubiyahraja, dimakamkan di Ragasela
5.Rubiyah Sekar, dimakamkan di Jambangan kabupaten Banjarnegara.
Kekeramatan dan kesaktian Syekh Jambukarang dengan ijin Allah SWT adalah:
Pecinya dapat terbang keangkasa
Menumpuk telur satu persatu kemudian mengambilnya satu persatu dari bawah namun tidak jatuh.
Dapat membaca surat-surat Al Qur’an yang tidak bertulis
Gunung-gunung tunduk saat beliau diwejang ilmu Kewalian
Menggandeng air keudara tidak tumpah

Asal usul Nur atau Cahaya
Dengan kodrat dan irodat Allah SWT maka muncullah Nur atau Cahaya digunung Panungkulan. Menurut riwayat, yang bisa menemukan Nur hanyalah Pangeran Jambukarang dan Pangeran Atas Angin yang sebenarnya adalah keturunan Rosulullah dari Sayidina Ali dengan Fatimah.
Hal ini dapat kita cermati dari kutipan wasiat Pangeran Atas Angin kepada Pangeran Jambukarang yang berbunyi sebagai berikut :
“Penget pengendikanipun susuhunan Atas Angin dumateng Ratu Jambukarang. Ingsun karso wirayat wirayatipun kanjeng Rosulullah SAW, pengendikanipun : Anak putu Ingsun kabeh, lamon ing besuk ana cahya ing Nusa Jawa, sundul ing langit, putih rupane sira dikebat, ambedag, karena cahya tuwuh ing ardi Panungkulan, ya pusering Nusa Jawa. Iku metu angejawi cahya merdeka dewe, ya merdikaning Allah, ya susuhunan Ratu rupaneing besuk retno kumala inten jumamen”
artinya :
Wasiat susuhunan atas Angin kepada Ratu Jambukarang. Kami mempunyai wasiat dari Rosulullah SAW, bersabda : semua anak cucu kami apabila dikemudian hari muncul Nur tiga buah menjulang tinggi ke angkasa berwarna putih di Pulau Jawa, segeralah kamu mencari dan mendatangi Nur tersebut yang timbul digunung Panungkulan. Itulah Pusat Pulau Jawa, munculnya Nur itu dengan sendirinya, ya dengan ijin Allah SWT . ya sebagai Ratu sesembahan. Dikemudian hari akan menjadi pembawa cahaya penegak kebenaran (pembawa Agama Islam)
Setelah Syekh Jambukarang wafat, perjuangannya diteruskan oleh keturunannya yakni Pangeran Makhdum Husen.
B.Makam Wali Pangeran Makhdum Husen (Kayu Puring)
Pangeran makhdum Husen adalah cucu Pangeran Jambukarang dari Rubiyah Bekti yang dikawinkan dengan Pangeran Atas Angin. Pengeran Makhdum Husen menggantikan ayah dan kakeknya memimpin Cahyana. Sejak masa Pangeran Jambukarang, kerajaan Pajajaran tidak senang daerah Cahyana berkembang karena berlainan pandangan yang pada masa itu Pajajaran menganut ajaran Hindu. Masa Pangeran Makhdum Husen, Pajajaran menyerang Cahyana dengan kekuatan besar dibawah pimpinan maha patih Pajajaran. Berkat pertolongan Allah SWT serta keberanian Pangeran Makhdum Husen beserta pengikutnya, Pasukan Pajajaran dapat dipukul mundur. Disinilah kekeramatan Pangeran Makhdum Husen antara lain: Malam hari beliau menjalankan Sholat Hajat, keesokan harinya berdatangan ribuan lebah menyerang tentara Pajajaran sehingga mereka lari tunggang-langgang meninggalkan Cahyana. Sisa-sisa tentara Pajajaran banyak yang terhenti disebelah barat sungai. Dengan serta merta datanglah makhluk halus (jin) menghancurkan mereka. Oleh karena itu sebagai peringatan atas kejadian tersebut sungai itu diberi nama sungai Mulih yang artinya Sungai Pulang, tempat dimana sisa-sisa tentara Pajajaran Pulang tanpa membawa hasil apapun.
Para santri dengan gigih melakukan perlawanan, meraka memanjatkan Do’a yang hingga kini terkenal dengan nama Braen. Braen ini tiap hari-hari besar Islam dikumandangkan di semua wilayah Cahyana atau juga sering dikumandangkan untuk acara hajatan. Sekarang kesenian Braen banyak dilakukan oleh orang-orang perempuan. Dengan bunyi terbang, Do’a yang berbentuk syair nyanyian terdiri dari kurang lebih 50 bait ini berkumandang dipimpin oleh seorang yang disebut Rubiyah. Isi dari syair Braen ini antara lain tentang Sejarah Pendidikan Islam, Ketauhidan dan sebagainya.
Dibawah ini kutipan dari syair Braen yang berisi Do’a
Tulung matulung tulung Tuhan
Para wali lilirna nyawa nira
Lilirna ing jagate kalawan Allah
Para wali bukakna lawang ing sapa’at Nabi
Lawang sapa’at Allah lan Nabi

Artinya
Mohon pertolongan kepada Allah
Para wali supaya membangkitkan semangat
Membangkitkan dunia dengan perintah Allah
Para wali supaya membuka pintu pertolongan
Yaitu safa’at Allah dan Nabi.

Setelah meninggal Pangeran Makhdum Husen dimakamkan di Desa Rajawana kecamatan karangmoncol kabupaten Purbalingga. Sampai sekarang banyak para peziarah dating ke makam beliau yang terletak disebelah selatan Gunung Lawet atau tepatnya di pintu masuk Desa Panusupan menuju Gunung Lawet dimana disitu adalah tempat Pangeran Jambukarang pertama menerima Ilmu Kewalian dari Pangeran Syekh Atas Angin.

C.Makam Wali Pangeran Makhdum Prakosa
Pangeran Makhdum Prakosa adalah cucu Pangeran Makhdum Husen, putra Pangeran Jamil. Masa itu adalah masa dimana para Wali Sanga menyebarkan ajaran Agama Islam ditanah Jawa. Dimasa itu pemerintahan Demak berdiri dan mempunyai hubungan baik dengan Cahyana.
Sejarah menyebutkan bahwa Pangeran Makhdum Prakosa ikut andil besar dalam pembangunan Masjid Agung Demak. Beliau bersama Sunan Kalijaga mendapat bagian membuat Saka Guru Masjid yang terkenal dengan sebutan Saka Tatal yang artinya saka yang terbuat dari serpihan-serpihan kayu. Begitu pula dengan penentuan arah kiblat, Pangeran makhdum Prakosa juga turut memberi sumbangan yang besar dan bahkan beliaulah dengan ijin Allah menggunakan palu besar meluruskan arah kiblat Masjid Demak. Dari peristiwa itulah Pangeran Makhdum Prakosa mendapat sebutan Prakosa yang artinya Perkasa (kuat)
Hubungan Demak dengan Cahyana semakin erat, lebih-lebih Demak mengakui kemerdekaan atas bumi Cahyana. Cahyana mendapatkan bantuan guru / Mubaligh dari demak hingga sang guru meninggal di Cahyana. Sekarang makamnya masih ada.
Adapun mengenai pengakuan Demak terhadap kemerdekaan bumi Cahyana tertuang dalam piagam sebagai berikut ;

Penget laying kang iki pangeran Sultan ing Demak
Kagaduha dening paman Makhdum Wali Prakosa ing Cahyana. Mulane anggaduh laying ing ingsun dene ngrowangi melar tanah ing Jawa, sun tulusaken pamardikane pasti lemah peperdikaning Allah, tan taha ana angowahana ora sunwehi suka khalal dunya akhirat, ana anak putu hamba anganiaya muga kena ing kutukaning allah lan oelh bebenduning para wali kang ana ing Nusa Jawa. Esti yen peperdikaning Allah.

Artinya :
Bahwa kami sebagai Sultan Demak, memberikan tanda piagam ini kepada paman Makhdum Wali Prakosa di Cahyana. Mengingat bahwa yang bersangkutan telah membantu menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, kami tetapkan langsung kemerdekaannya. Pasti ini tanah benar-benar merdeka karena Allah. Barang siapa berani merubah, kami tidak halalkan dunia dan akhirat. Bila ada anak cucu kami yang berani merusak, semoga mendapat kutukan dari Allah dan semua Wali di Pulau Jawa. Bahwa benar-benar merdeka karena Allah SWT.
Pangeran Makhdum Prakosa meninggal dan dimakamkan di Desa Pekiringan Kecamatan Karangmoncol Kabupaten Purbalingga
D.Makam wali Pangeran Makhdum Cahyana
Pangeran makhdum Cahyana adalah putra Pengeran agiyana di ampel Denta. Beliau menantu Pangeran makhdum Prakosa. Alkisah Pangeran Makhdum Cahyana akan pergi menunaikan ibadah Haji ketanah suci. Beliau berangkat dari Ampel singgah di Cirebon. Lama tinggal di Cirebon, saudara perempuannya diambil istri oleh sultan Cirebon. Karena suatu hal tang tidak baik, Pangeran Makhdum Cahyana bersama saudara perempuannya pergi melarikan diri Kesultanan Cirebon secara diam-diam.
Dari Cirebon beliau mengambil jalan melalui hutan belantara. Akibat lama perjalanan di hutan belantara, Pangeran Makhdum Cahyana banyak mengalami luka dan sampailah beliau di Cahyana. Beliau lama tinggal disana dan menjadi santri pangeran Makhdum Prakosa. Beliau dikenal dengan sebutan santri Gudig karena luka-luka yang banyak disekucur tubuhnya. Pangeran Makhdum Prakosa sangat sayang pada beliau hingga putrinya yang bernama Pangeran Estri dijodohkan dengan beliau.
Beliau dikenal karena memiliki kekuatan yang tinggi antara lain : bias menghilang hingga musuh tidak dapat melihatnya,dapat menggiring batu layaknya binatang ternak menggunakan ranting pohon waru dan waktu beliau tidur, pakaiannya bercahaya seperti api. Disamping itu beliau juga pandai bertani dan Mencari ikan di sungai. Pangeran Makhdum Cahyana meninggal dimakamkan di Suro Desa Grantung Kecamatan Karangmoncol Kabupaten Purbalingga. Peninggalan-peninggala beliau antara lain :

Lumbung padi, langgar Sholat, sorban berwarna hijau muda, sorban berwarna hitam, kain lurik kepyur, Kain batik barong, kitab-kitab, ceret tembaga, kendil, terbang, golok.
Barang-barang tersebut sekarang masih tersimpan di Pemakaman beliau.

E.Kyai Pekeh/Fakih dan Mas Barep
Keduanya adalah putra Pangeran makhdum Tores yang dimakamkan di Bogares kabupate Tegal, kemenakan dari Pangeran Makhdum Prakosa. Sesudah Pangeran Makhdum Cahyana wafat, maka Kyai Pekeh dan Barep menggantikan pimpinan daerah Cahyana. Pada masa ini timbul pembagian pimpinan keluarga Cahyana menjadi dua kepala keluarga dari keluarga keturunan Pangeran Jambukarang.
Beliau meninggal dan dimakamkan di Suro Desa Grantung kecamatan Karangmoncol kabupaten Purbalingga.
Versi asal muasal Baturraden
Konon di Negara Rum, bertahta seorang Pangeran bernama Syekh Maulana Maghribi berasal dari Turki yang memeluk agama Islam dan dia adalah seorang ulama. Pada waktu fajar menyingsing, setelah beliau melakukan kewajibannya selaku orang muslim, terlihatlah oleh beliau cahaya terang misterius bersinar disebelah timur menjulang tinggi di angkasa.

Terdorong oleh perasaan ingin mengetahui tempat darimana cahaya terang misterius itu datang dan makna dari cahaya terang tersebut, maka timbullah niat dan itikad yang kuat di dalam sanubarinya dan mencari tempat yang dimaksud. Seorang sahabatnya bernama Haji Datuk dipanggil dan diperintahkan supaya para hulubalang dan balatentaranya menyiapkan armada dengan segala perlengkapannya untuk berlayar menuju kearah datangnya cahaya misterius tersebut.

Maka,berangkatlah si Pangeran bersama-sama dengan sahabatnya itu 298 (dengan dua ratus sembilan puluh delapan) orang pengikutnya mengarungi samudera menuju kearah terlihatnya cahaya itu memancar selama 40 malam.
Kemudian sampailah mereka di ujung timur sebuah pulau yang bernama dengan Pulau Jawa. Adapun tempat dimana mereka membuang sauh dewasa ini terkenal dengan nama Pantai Gresik.

Meskipun mereka telah lama menempuh perjalanan penuh dengan berbagai kesulitan dan penderitaan serta menghadapi bermacam-macam marabahaya, mereka belum mencapai apa yang menjadi cita-cita atau tujuannya karena cahaya terang misterius tersebut tampak disebelah barat. Pada suatu waktu terlihat kembali cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah barat dan mereka mengambil keputusan kembali karah barat dengan menempuh jalan di laut Jawa di pantai Pemalang Jawa Tangah, dimana mereka berlabuh sambil sekedar melepas lelah. Ditempat ini Syekh Maulana Maghribi meminta para armadanya untuk pulang ke negerinya, sedangkan Syekh Maulana Maghribi ditemani oleh Haji Datuk dan untuk sementara bermukim ditempat itu.


Karena mereka mempunyai kepercayan pada Yang Maha Pencipta, mereka dijiwai oleh kekuatan Gaib yang tiada kunjung padam dan berketetapan hati akan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki menuju kearah Selatan sambil menyebarkan agama Islam. Dari Pemalang mereka menuju ke selatan menyusuri hutan belantara tanpa mengenal bahaya yang dihadapinya karena tertarik sinar cahaya misterius yang sekarang terlihat di Timur Laut. Berhubung jalur yang ditempuhnya itu meletihkan, maka mereka berhenti sejenak untuk melepaskan lelahnya sambil termenung merasakan kisah perjalanannya serta kewajibannya yang dibebankan diatas pundaknya untuk menyebarluaskan agama Islam. Tempat dimana mereka beristirahat dengan diliputi pikiran-pikiran (gagasan-gagasan) dan perasaan-perasaan yang memenuhi hati sanubarinya diberi nama ‘Paduraksa’ yang artinya bertengkar didalam kalbu atau rasa.

Dari tempat itu mereka meneruskan perjalanannya ke selatan lagi dan sampailah mereka di hutan belukar dan untuk melepaskan lelahnya mereka singgah diatas tonggak randu yang tumbang dan tempat tersebut mereka beri nama ‘Randudongkal’. Dari tempat peristirahatannya itu, cahaya terang masih kelihatan ada di timur laut, dan mereka meneruskan perjalanannya menuju arah cahaya tadi. Dan sebelum mereka sampai ketempat yang menjadi tujuannya mereka berhenti untuk beristirahat di dekat Sendang (kolam) untuk melakukan ibadah Sholat, dan sesudahnya tempat tersebut diberi nama ‘Belik’. Setelah melakukan Sholat, maka perjalanan diteruskan kearah timur dan sampailah disuatu tempat, dimana terdapat banyak batu-batuan dan di tempat tersebut mereka beristirahat lagi sambil memikirkan bagaimana cara mereka dapat menjangkau tempat kedudukan cahaya yang dicarinya, karena cahaya terang tersebut terlihat ada dipuncak Gunung. Tempat dimana mereka beristirahat dan terdapat banyak batu-batuan itu diberi nama ‘Watu Kumpul’.

Karena tekadnya yang kuat, pendakian itu dilakukan hingga akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju. Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi ke angkasa. Perlahan-lahan Syekh Maulana Maghribi dan Haji Datuk menuju mendekati tempat tersebut sambil mengucapkan salam ‘Assalamu’alaikum’, tetapi tidak dijawabnya oleh si petapa meskipun berulangkali diucapkan. Setelah ternyata salamnya tidak mendapat jawaban, maka Haji Datuk berkata pada Syekh Maulana Maghribi : ‘Kiranya pertapa itu adalah seorang Budha’. Mendengar perkataan tersebut, si petapa itu lalu menjawab : ‘Sesungguhnya saya ini adalah orang Budha yang Sakti’. Mendengar kata-kata sakti maka Syekh Maulana Maghribi meminta kepada pemeluk agama Budha tadi, bahwa beliau ingin melihat atau menyaksikan kesaktiannya,maka diambillah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang di angkasa.

Syekh Maulana Maghribi tergolong orang yang mempunyai kesaktian dan didorong oleh rasa ingin mengimbangi kemukjizatan si pertapa itu, lalu melepaskan bajunya dan dilemparkan keatas, ternyata baju tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa yang menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul dari kesaktian orang Budha itu,tetapi ia belum mau menyerah dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit. Melihat keadaan tersebut diatas Syekh Maulana Maghribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh. Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya. Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukannya hal tersebut, maka Syekh Maulana Maghribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah sampai selesai dengan tidak ada satupun yang jatuh.

Syekh Maulana Maghribi masih merasa belum puas dan masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dengan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai menjulng tinggi. Lalu, Syekh Maulana Maghribi berkata : ‘Ambillah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah tanpa ada yang berjatuhan’. Setelah ternyata tidak ada kesanggupan daari si pertapa, maka beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir itu pecah dan airnya memancar kesegala penjuru.

Akhirnya si pertapa yang mengaku bernama ‘Jambu Karang’ (nama tersebut berasal dari pohon sandarannya, yaitu sebatang pohon jambu dimana disekelilingnya terdapat batu-batuan) menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam. Janji tersebut diterima oleh Syekh Maulana Maghribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selnjutnya dikubur di ‘Penungkulan’ (tempat dimana si pertapa menyerah kalah). Kemudian dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yng dibawa oleh Haji Datuk dari Tanah Suci atas perintah Syekh Maulana Maghribi dengan mempergunakan tempat dari bambu (bumbung). Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetap karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah sehingga air sisa tersebut berhamburan dan di tempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yng tidak mengenal kering dimusim kemarau.

Setelah pertapa disucikan menjadi pemeluk agama Islam, maka namanya diubah menjadi ‘Syekh Jambu Karang’. KemudianSyekh Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at tersebut yaitu diatas bukit ‘Kraton’. Sesaat setelah Syekh Jambu Karang menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin ribut yang mengakibatkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang menghormati Gunung Kraton yaitu tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sedang memberikan wejangan (membai’at) Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim. Menurut hikayatnya, Syekh Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama ‘Rubiah Bhakti’ yang dipersunting oleh Syekh Maulana Maghribi, setelah Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa. Setelah memperistrikan putri Syekh Jambu Karang, Syekh Maulana Maghribi berganti nama menjadi ‘Atas Angin’. Dari perkawinannya tersebut menurunkan lima orang putera dan puteri, yaitu :

1. Makdum Kusen (Makam di Rajawana)
2. Makdum Medem (Makam di Cirebon)
3. Makdum Umar (Makam diKarimun Jawa)
4. Makdum (yang menghilang atau murca)
5. Makdum Sekar (Makam di Gunung Jembangan)

Adapun Syekh Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan ditempat itu pula dan tempat pemakamannya disebut ‘Gunung Munggul’ (puncak yang tertinggi didaerah itu).

Syekh Maulana Maghribi yang terkenal dengan ‘Mbah Atas Angin’ selama empat puluh lima tahun bermukim disuatu tempat atau pedukuhan yang bernama ‘Banjar Cahayana’ (mungkin tempat tersebut didiami setelah menemukan cahayanya). Di tempat tersebut Mbah Atas Angin menderita penyakit gatal-gatal yang susah disembuhkan. Hal ini menimbulkan keprihatinan disertai dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi rahmat serta berkah terhindar dari penyakitnya itu.

Sesudah sholat Tahajud.dia mendapat Ilham bahwa dia harus pergi ke Gunung ‘Gora’ dimana ia akan mendapatkan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Kemudian pagi-pagi waktu Shubuh Mbah Atas Angin bersama Haji Datuk pergi kearah barat dan pada siang hari sampailah mereka dilereng Gunung Gora. Sesudah sampai di lereng Gunung Gora beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya dan beristirahat sambil menunggu di tempat yang datar, sebab Mbah Atas Angin akan meneruskan perjalanannya kearah suatu tempat yang mengepulkan asap.

Ternyata disitu ada sumber air panas dan Syekh Maulana Maghribi menyebutnya ‘Pancuran Pitu’ yang artinya sebuah sumber air panas yang mempunyai tujuh mata air. Setiap hari Syekh Maulana Maghribi mandi secara teratur di tempat itu, dengan begitu dia sembuh dari penyakit gatalnya. Sesudahnya beliau memanjatkan do’a syukur kehadirat Illahi serta mengucap syukur bahwasanya ia telah dikaruniai sembuh dari sakitnya yang telah sangat lama dideritanya. Setelah ia kembali ketempat dimana Haji Datuk menunggu, ia berkata : Saksikanlah, saya sekarang telah sembuh dari sakitku dan telah terhindar dari penderitaan.

Selanjutnya Dia mengganti nama Gunung Gora itu menjadi ‘Gunung Slamet’. Slamet dalam bahasa Jawa berarti aman. Selama Syekh Maulana Maghribi berobat di Pancuran Pitu, Haji Datuk tetap dan taat menunggu ditempat yang ditunjuk semula dan kepadanya diberi julukan ‘Haji Datuk Rusuladi’. Rusuladi artinya ‘Batur Yang Baik’ (Adi). Dan konon kabarnya tempat tersebut oleh penduduk sekitarnya hingga kini disebut dengan ‘BATURRADEN’.

  •  Dari berbagai sumber





1 komentar:

Anonim mengatakan...

Sangat bagus certitanya...penuh sejarah...buat cerita anak cucu.